http://www.freepik.com
Malam ini sepulang melaksanakan salat tarawih di dusun
sebelah yang merupakan acara rutinan setiap bulan ramadan tiba, tim berhenti di
pertigaan jalan di dusun kami.
“Lha ngpo kok
mandhek kene ki?” tanyaku.
“Rapopo kene
rembugan sek” jawab ketua remaja kami.
Kami berlima berhenti ditengah jalan tepat di pertigaan
barat dusun. Membahas acara yang akan dilaksanakan besok harinya dengan
anak-anak di dusun kami. Ketua remaja kami (beliau sudah mempunyai dua anak
kelas XI SMK dan VI SD) tiba-tiba berkeluh kesah tentang apa yang terjadi pagi
tadi. Sebenarnya beliau sudah bukan kategori remaja lagi jika dilihat dari
umur, namun karena berbagai hal beliau masih harus membimbing remaja-remaja
kurang tata krama seperti kami ini sebagai ketua remaja.
“Mboh mau posoku
kanggo opo ora, jan anyel tenan”
“Lha ngpo ek
mas?” aku menimpali (kami anggota remaja memanggil ketua remaja dengan sebutan
mas bukan bapak meskipun beliau bapak beranak dua)
“Anakku mau bar
tak balang helm!”
“Hahaha lha
nopo, goro-goro rapotan mesti”
“Lha kon ra
anyel piye wong jipuk rapot kok enek dengan syarat ki”
“Lha kok dengan
syarat piye?”
“Jane ki bijine
yo apik, ora neko-neko ning munggah e ndadak nganggo syarat”
“Loh lha kok
nganggo syarat?”
“Iyo kabeh sak
kelas ngno. Syarat e kon apalan sepuluh surat pendek ning gur apal papat. Opo
ora kudu ngamuk nek ngno kui?”
“Haha terus tok
sidang nu tekan ngomah?”
“Hiyo mbi le
cilik barang sisan tak kandani, koe arep do niat sekolah opo ora? Nek ora lak
tak kondo gurumu pupung rung kebacut lehku ngkragati sekolah. Koe tak sekolahke
sepuluh tahun ki tok ge mikir opo? Sekolah ning NU kok surat pendek we ra apal.
Isen to aku wong aku yo kenal karo wali kelas e. Pakne lulusan pondok kok anak
e surat pendek wae ra apal! Jan kudu muni-muni aku mau ki. Rapot e ditakoki mak
ne aku kondo ra dikei. Tak guwak rapote mboh nek pawon po kamar. Anyel aku”.
Kurang lebih percakapan kami seperti di atas. Inti ceritanya
adalah ketua remaja kami mengambil hasil nilai untuk kenaikan kelas namun
beliau harus sedikit mengeluarkan nasihat untuk anak laki-lakinya yang tidak
berhasil menghafal sepuluh surat pendek sebagai syarat kenaikan kelas. Lalu apa
yang terjadi? Naik kelas atau tidak dia? Hehe tadi saya lupa tanya untuk hal
itu.
Lalu jawaban mana yang tepat pada pertanyaan sulit mana
antara menjadi anak atau menjadi orang tua? Baik kita ulas satu-satu untuk
membandingkan mana yang sulit. Pertama kita bahas jawaban menjadi orang tua.
Orang tua adalah gelar yang disematkan ketika sepasang suami istri memiliki
anak. Mereka berdua harus merawat dan membesarkan anak mereka hingga sang anak
mampu dan siap hidup mandiri hingga akhirnya melepaskan diri dari orang tua.
Orang mempunya kewajiban memenuhi kebutuhan sang anak, melindungi anak ketika
dalam bahaya dan ancaman, memberikan kasih sayang, dan hal-hal yang belum bisa
sang anak penuhi sendiri.
Apa beratnya menjadi orang tua ya? Jujur ini pertanyaan
sebenarnya lebih tepat jika dijawab seorang yang sudah menjadi orang tua
langsung. Namun sebisa mungkin admin akan memberi sedikit gambaran. Tugas berat
orang tua mendidik anak agar si anak menjadi anak yang tidak mbambung. Itu lho sejenis anak yang hanya
membangkang kerjaannya. Mendidik anak tidaklah mudah, harus ada yang
dikorbankan yaitu materi dan tenaga eh kesabaran juga. Jika anak berbuat salah
tentu nama baik orang tua juga jadi taruhannya. Kek gitu berat nggak sih? Iya
jika belum pernah mengalami langsung sulit dikatakan berat apalagi bagi
kita-kita yang baru menginjak remaja.
Kedua yaitu jawaban lebih sulit menjadi anak. Mengapa
menjadi anak itu sulit? Sulit apanya kan tinggal jalanin aja ya, nggak punya duit tinggal minta orang
tua, pengen ini pengen itu tinggal bilang. Lha sulitnya di mana? Tinggal tinggal
gundulmu -_- Sulitnya menjadi anak
yaitu nurut dengan orang tua. Bentar bentar nurut yang admin maksud tentu saja
nurut dalam tanda kutip menjadi anak yang berada di jalan yang lurus. Anak yang
menjaga nama baik orang tua, anak yang paham tugas kewajiban seorang anak
khususnya bersungguh-sungguh khususnya untuk urusan pendidikan. Kalau waktunya
belajar ya belajar bukan malah ML eh Mobile
Legends.
Generasi jaman kalian sekarang sangat berbeda dengan
generasi orang tua kalian. Kalian yang sekarang adalah Gen Z (generasi di mana
batas antara fisik dan digital yang mulai hilang, koneksi internet sejak kecil,
teknologi yang semakin canggih) sedangkan orang tua kalian adalah Generasi X
(generasi yang mengenal internet diusia mereka yang sudah dewasa atau bahkan
tua). Hal ini tentu saja membawa pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau dulu bagi orang tua kalian hape adalah
barang mewah sekarang bagi kalian hape adalah
kebutuhan primer. Lingkungan yang sudah banyak mengalami perubahan memberikan
dampak yang baik sekaligus buruk terhadap kalian.
Berdasar cerita di atas, si anak seharusnya menyadari
posisinya sebagai seorang pelajar yaitu belajar. Semua orang tua pasti
menginginkan anaknya jauh lebih pintar dari orang tua, oleh karena itu mereka
menyekolahkan kalian di sekolah favorit atau sekolah yang kalian inginkan.
Bukan hal mudah bagi orang tua memenuhi kebutuhan kalian seperti sekarang ini.
Kebutuhan sekaligus keinginan kalian yang semakin meningkat harus dibarengi
dengan kerja keras orang tua demi memenuhinya.
Sebuah pesan yang admin kutip dari Mas Agus Mulyadi “kewajiban
orang tua memang membiayai, namun kewajiban anak adalah mengerti dan sadar diri”.
Jadilah anak yang paham tugas dan kewajiban kalian sebagai anak dan siswa.
Jangan sok jadi dewasa yang mau melakukan apapun yang diinginkan terlebih hanya
untuk bersenang-senang. Menjadi anak maupun orang tua sama sama sulit. Sulit
memenuhi tanggung jawab masing-masing. Meskipun sulit bukan berarti tidak bisa
dicapai lho ya?
Comments