http://www.pixabay.com
Aku
tak pandai merangkai kata untuk selalu bisa berbincang denganmu. Bahkan ketika
jarak memisahkan kita, aku masih saja bodoh. Bodoh memilih topik pembicaraan
agar kita bisa saling melepas rasa rindu yang entah untuk berapa lama. “Bagaimana kabarmu ayah? Apakah ayah makan
teratur? Jangan terlalu tidur larut malam”. Ini adalah template pertanyaan
yang seharusnya seorang anak rantau sering tanyakan pada ayahnya. Iya bagi
mereka yang sudah terbiasa dengan kedekatan, hal ini bukan sesuatu yang sulit
keluar dari mulut. Tapi bagaimana dengan diriku yang jarang bertanya hal yang
membuat keluar air mata ini yah? Apakah aku anakmu yang bodoh? Sepertinya tidak
demikian.
Kita
bukan tidak dekat, justru sebaliknya kita teramat sangat dekat. Bahkan kita
bisa saling merasakan jika salah satu dari kita terluka, kecewa, atau bahagia
sekalipun. Mengapa? Karena dalam darah kita mengalir darah kedua orang tua
kita. Tapi bagaimana dengan ketidakmampuanku mengucap kata-kata sayang padamu
ayah? Padahal aku sudah berani mengucap sayang pada laki-laki lain, tapi
mengapa jika denganmu bibir ini tak mampu mengucap? Bahkan hanya sekedar
berkirim pesan saja sulit. Seperti ada rasa canggung yang teramat, bisa
dikatakan aku mungkin malu yah. Maafkan, sungguh maafkan anakmu ini.
Tentu
saja sejak aku dalam kandungan, ayah sudah menyimpan rasa sayang yang teramat
besar padaku. Begitu kelahiranku datang, rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan
terlihat jelas saat dirimu menjagaku. Sampai diriku menginjak usia dewasa
seperti ini bahkan sudah pantas memiliki pendamping hidup, kau masih saja
memperlakukanku layaknya putri kecilmu dulu. “Sejujurnya kadang aku merasa kesal, aku ini sudah dewasa yah. Aku juga
sudah berkeinginan menikah tapi mengapa kau masih memperlakukanku seperti ini?”.
Namun
bodohnya diriku, ketika aku merasa terluka aku selalu saja merengek padamu.
Menganggap hanya diirimulah satu-satunya laki-laki yang tulus menyayangiku. Tak
ada yang lain. Aku selalu saja menyebut namamu jika masalah datang padaku.
Apakah aku ini bodoh yah? Aku malu ketika aku merasa ingin diperlakukan dewasa
tapi nyatanya aku tak bisa apa-apa tanpa dirimu. Aku hanyalah gadis rapuh yang
mungkin suatu saat bisa dimangsa siapapun yang mencoba memanfaatkanku. Maafkan aku
ayah, sekali lagi maafkan aku.
Maafkan
diriku yang membuatmu khawatir ketika aku pergi bersama teman laki-lakiku.
Maafkan aku ketika aku pergi jauh dan pulang diwaktu yang tak seharusnya
seorang gadis rumah lakukan. Maafkan aku jika waktu luangku sering aku gunakan
untuk teman-temanku. Maafkan aku yang selalu saja sibuk dengan gadget ku hingga larut malam. Maafkan
aku jika aktivitasku sebenarnya masih berat untuk engkau izinkan. Maafkan aku
jika aku masih sering berbohong tentang makanku, tidurku, dan istirahatku.
Maafkan aku ayah. Aku memang tak pernah melihatmu menangisi diriku yah, tapi
aku telah paham jika rasa sakit bisa saja menyerangmu jika tingkahku
keterlaluan. Aku bisa saja mengecewakanmu atas keegoisanku.
Aku
sangat paham bila dirimu teramat sangat menghawatirkanku. Engkau mencintaiku
lebih dari kau mencintai dirimu sendiri. Kau bahkan melakukan hal-hal yang
berat hanya untuk memenuhi keinginanku yang tak jarang keterlaluan. Aku
menyadari jika ungkapan perhatianku tak pernah kuucapkan blak-blakan didepanmu,
tapi satu hal yang harus selalu kau ingat ayah. Rasa sayang anakmu ini tak
pernah pudar, selalu melekat, bahkan semakin membesar seiring berjalannya
waktu. Meskipun tak pernah aku sampaikan, meskipun aku bodoh dalam berbincang
denganmu, aku yakin cinta ini sampai pada hatimu. Anak yang semakin lama
beranjak dewasa ini berharap selalu menjadi putri kecilmu yang selalu engkau
khawatirkan keadaannya.

Comments