Catatan KKN #2

cerita kkn
Pagi ini, tepat hari Minggu aku buat janji dengan bocah-bocah di tempat KKN. Alhamdulillah, selama berada 2 minggu kami sudah bisa mengambil hati bocah-bocah disana. Ya maklum saja, dari tingkatan masyarakat yang ada paling mudah menggapai hati bocah. Sing penting asik. Hampir setiap malam posko selalu didatangi paling sedikit 10 bocah yang tingkatannya masih Sekolah Dasar. Alhamdulillah mereka masih benar-benar polos. Ora enek cinta-cintaan koyo kids zaman now. Sebut saja Radit (bocah paling lucu, punya logat unik, kecil, kurus, nggemesi, dan pengen tak bawa pulang), Fajar (dia cowok paling besar, sudah kelas 5, katanya pernah nunggak, aku suka dia karena dia punya wajah yang ekspresinya datar), Tama (bocah paling kecil kelas 2, kalau belajar matematika langsung paham), Raka (abangnya tama, aku baru tahu mereka kakak-adik tadi malem, wagu kan aku K), Adji (eh ini ding sing paling besar, sudah SMP kelas VII, pendiam, tapi kalau ngerjain PR selesai dan benar, rajin), Sauqi (bocah paling pintar, satu kelas dengan Radit, tapi kalau aku ngajarin yang lain dia yang ngomporin jawaban, bikin kezel tapi ya lucu), Dafa (bocah paling methisil dewek, suka bikin rusuh kalau tiba-tiba dateng, bahkan yang lucu dia nyalahin temenku yang ngajarin gara-gara dari sepuluh soal hanya bener satu doang -_-), dan lain-lain sisanya aku masih dalam tahap menghapalkan nama.
Beberapa bocah lucu itu sabtu malam ngotot pengen Minggu pagi jalan-jalan. Aku sih iya-iya aja wong wes biasa mplaku kok. Kita membicarakan seputar rencana jalan-jalannya dan memutuskan berangkat jam berapa. Lhadalah aku tidur cukup larut karena mood tidak cukup baik malam itu. Sebelum tidur sudah pasti aku pasang dua alarm via ponsel. Jam tiga dan jam empat. Rencana awal ingin menghabiskan kuota malam yang Alhamdulillah dikasih temen 13 GB. Tapi namanya juga manusia, fisik nggak mendukung jadi suara alarm tak menjangkau telinga hingga hasrat untuk bangun. Alhasil, aku tersadar pukul setengah lima. Itu pun karena suara bocah-bocah yang sudah terdengar dari luar.
Kadung janji mau gimana, mau pura-pura nggak denger kok aku jadi wagu. Oke aku bangun dan bergegas membuka pintu. “Gasike nang wes teko”. “Ha njo mbak mangkat”, jawab Radit. “Sek yo nang aku tak subuh sek, gek tangi”. “Nggih mbak”. Aku berbegas solat subuh dan kemudian keluar segera. Karena temanya jalan-jalan, bukan lari-lari jadi agak santai. “Ngalor opo ngidul mbak?”. “Nganu nang ngenteni mbak tata ngidul sek wae ya”. Kami berjalan santai kurang lebih limaratus meter. Tata sudah siap dan menyusul kami. “Sido nang curug mbak?”. “Ha adoh ora nang?, tanyaku memastikan. Maklum lah hari Minggu yang biasanya masih krubutan di kamar sudah jalan-jalan di pinggir sawah. “Nggih lumayan mbak. Nopo teng TK mbak?”, mereka memberi alternatif. Oke kami putuskan jalan-jalan ke TK yang jaraknya tak cukup jauh *tentunya dengan berjalan kaki.
Ahhhh pagi ini rasanya tenang. Sepanjang jalan bocah-bocah melakukan tugas mereka selayaknya bocah desa yang masih menggemaskan. Setiap pergantian menit tak luput dari canda dan tawa. Aku suka. Sungguh. Inilah sesuatu yang hilang belakangan ini dari pandangan. Radit, Fajar, Sauqi, Tama, Raka, Reyhan, dan kami tentunya. Mereka masih sungguh polos, meskipun di sekolah mereka menjadi paling nakal. Kami tak memegang gadget satupun. Murni kami berjalan dan tertawa bersama. sesekali ledekan yang mereka berikan hanya membuat suasana semakin menarik. “Ha kui mbak sing aku kecis kae”, tunjuk Radit disalah satu gang masuk yang pernah ia ceritakan padaku *kecis itu artinya berrbohong. “Ah ta aku diapusi Radit, jare omah lemah tak kiro wisata ternyata kuburan”, -____-.  Itu hanya satu dari sekian banyak lelucon yang ada.
Setiba di TK mereka masuk dengan memanjat pagar. Tentu saja karena pagarnya dikunci dan memang seharusnya kami tidak masuk seenaknya. “Ayo mbak munggah”, lagi-lagi Radit membujuk. “Wes kono nang do dolanan, aku tak nunggu nang ngarep kene”. Mereka memainkan permainan yang umumnya ada di TK, sedang aku dan Tata menunggu di depan gerbang. Ada hamparan sawah di sekeliling gedung TK. Mumpung matahari masih perlahan naik, tak ada wagunya aku berkeliling sebentar. Ahhh firasatku benar. Sinar yang masih hangat, tanah basah yang dingin, dan dedaunan yang masih berembun. Aku menemukannya. Tepat di depanku. Sejenak ku hirup udara pagi itu. “Mbak nopo ning kono?, Tama berteriak padaku. “Lha kok malah penekan nang!”.  Mereka memanjat pohon kersen di pojok TK. Ah jadi teringat masa kecilku yang tiap pulang sekolah juga melakukan hal yang sama, menantangnya pohon kersen ada di pinggir jalan raya. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Semua sama.
Sauqi yang berada di bawah memberiku sebuah kersen. “Niki mbak, jajal sek seneng ora”, sambil mengulurkan tangganya. Karena masih pagi dan belum minum apapun aku mengantongi buah kersen tersebut dalam kantong celana. Setelah cukup lama kami kembali ke rumah. “Yo nang wes awan, selak ketauan nek mplumpat pager ngko”, rayuku mengajak mereka pulang. Kami berjalan bersama mengikuti jalan pulang. Wkwk. Matahari sudah cukup  naik, suasana sedikit hangat. Disepanjang jalan kami bertemu dua gadis kecil juga berlarian berlawanan arah dengan kami. “Nang kono godani”, sambil melirik Radit yang berada di depanku. Kedua gadis itu berpapasan dengan kami dengan ekspresi yang geli jika aku mengingatnya. Haha aku dulu juga seperti itu ketika kecil, ah bahkan sekarang juga demikian. Malu ketika berpapasan dengan lelaki atau segerombolan lelaki namun aku hanya seorang diri. Rasane pengan puter balik golek dalan liyo wes. Masih dengan suasana yang sama, kami saling melempar ejekan. Bahkan Radit yang tanpa malu menurunkan celananya sambil memperagakan tingkah yang kocak. Hingga dipersimpangan jalan kami berpisah satu per satu menuju rumah masing-masing.
Jujur saja, aku sudah jarang melihat hal semacam itu. Bocah-bocah polos yang taunya cuma main saja. Haha. Bisa kalian bayangkan bagaimana methisilnya mereka ketika di sekolah? Bukan masalah nakal atau bagaimananya yang ingin admin tekankan, melainkan peran kalian ketika bocah. Bermain tak kenal gadget ditangan, tak kenal numpak motor boncengan ugal-ugalan, mereka usil, mereka nakal tapi dalam tahap bocah. Mereka mengingatkan bahwa ceria yang sebenarnya memang ada, bukan pura-pura atau ditutup-tutupi. Bukan juga bermuka dua. Saling mengejek bukan menghina. Masa kecil yang selalu dirindukan orang dewasa. Bisa tertawa tanpa harus tau sakitnya patah hati itu bagaimana, tak kenal kata menyerah jika banyak masalah yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Radit, Fajar, Sauqi, Tama, Raka, dan Reihan. Terimakasih untuk waktu berharganya. 

Comments