Pagi
ini, tepat hari Minggu aku buat janji dengan bocah-bocah di tempat KKN.
Alhamdulillah, selama berada 2 minggu kami sudah bisa mengambil hati
bocah-bocah disana. Ya maklum saja, dari tingkatan masyarakat yang ada paling
mudah menggapai hati bocah. Sing penting
asik. Hampir setiap malam posko selalu didatangi paling sedikit 10 bocah
yang tingkatannya masih Sekolah Dasar. Alhamdulillah mereka masih benar-benar
polos. Ora enek cinta-cintaan koyo kids
zaman now. Sebut saja Radit (bocah paling lucu, punya logat unik, kecil,
kurus, nggemesi, dan pengen tak bawa pulang), Fajar (dia cowok paling besar,
sudah kelas 5, katanya pernah nunggak,
aku suka dia karena dia punya wajah yang ekspresinya datar), Tama (bocah paling
kecil kelas 2, kalau belajar matematika langsung paham), Raka (abangnya tama, aku
baru tahu mereka kakak-adik tadi malem, wagu kan aku K), Adji (eh ini ding sing paling
besar, sudah SMP kelas VII, pendiam, tapi kalau ngerjain PR selesai dan benar,
rajin), Sauqi (bocah paling pintar, satu kelas dengan Radit, tapi kalau aku
ngajarin yang lain dia yang ngomporin jawaban, bikin kezel tapi ya lucu), Dafa
(bocah paling methisil dewek, suka
bikin rusuh kalau tiba-tiba dateng, bahkan yang lucu dia nyalahin temenku yang
ngajarin gara-gara dari sepuluh soal hanya bener satu doang -_-), dan lain-lain
sisanya aku masih dalam tahap menghapalkan nama.
Beberapa
bocah lucu itu sabtu malam ngotot pengen Minggu pagi jalan-jalan. Aku sih
iya-iya aja wong wes biasa mplaku kok. Kita
membicarakan seputar rencana jalan-jalannya dan memutuskan berangkat jam berapa.
Lhadalah aku tidur cukup larut karena
mood tidak cukup baik malam itu. Sebelum tidur sudah pasti aku pasang dua alarm
via ponsel. Jam tiga dan jam empat. Rencana awal ingin menghabiskan kuota malam
yang Alhamdulillah dikasih temen 13 GB. Tapi namanya juga manusia, fisik nggak
mendukung jadi suara alarm tak menjangkau telinga hingga hasrat untuk bangun.
Alhasil, aku tersadar pukul setengah lima. Itu pun karena suara bocah-bocah
yang sudah terdengar dari luar.
Kadung janji mau gimana, mau pura-pura nggak
denger kok aku jadi wagu. Oke aku bangun dan bergegas membuka pintu. “Gasike nang wes teko”. “Ha njo mbak
mangkat”, jawab Radit. “Sek yo nang
aku tak subuh sek, gek tangi”. “Nggih mbak”. Aku berbegas solat subuh dan
kemudian keluar segera. Karena temanya jalan-jalan, bukan lari-lari jadi agak
santai. “Ngalor opo ngidul mbak?”. “Nganu
nang ngenteni mbak tata ngidul sek wae ya”. Kami berjalan santai kurang
lebih limaratus meter. Tata sudah siap dan menyusul kami. “Sido nang curug mbak?”. “Ha adoh ora nang?, tanyaku memastikan.
Maklum lah hari Minggu yang biasanya masih krubutan
di kamar sudah jalan-jalan di pinggir sawah. “Nggih lumayan mbak. Nopo teng TK mbak?”, mereka memberi alternatif.
Oke kami putuskan jalan-jalan ke TK yang jaraknya tak cukup jauh *tentunya
dengan berjalan kaki.
Ahhhh
pagi ini rasanya tenang. Sepanjang jalan bocah-bocah melakukan tugas mereka
selayaknya bocah desa yang masih menggemaskan. Setiap pergantian menit tak
luput dari canda dan tawa. Aku suka. Sungguh. Inilah sesuatu yang hilang
belakangan ini dari pandangan. Radit, Fajar, Sauqi, Tama, Raka, Reyhan, dan
kami tentunya. Mereka masih sungguh polos, meskipun di sekolah mereka menjadi
paling nakal. Kami tak memegang gadget
satupun. Murni kami berjalan dan tertawa bersama. sesekali ledekan yang mereka
berikan hanya membuat suasana semakin menarik. “Ha kui mbak sing aku kecis kae”, tunjuk Radit disalah satu gang
masuk yang pernah ia ceritakan padaku *kecis itu artinya berrbohong. “Ah ta aku diapusi Radit, jare omah lemah tak
kiro wisata ternyata kuburan”, -____-. Itu hanya satu dari sekian banyak lelucon yang
ada.
Setiba
di TK mereka masuk dengan memanjat pagar. Tentu saja karena pagarnya dikunci
dan memang seharusnya kami tidak masuk seenaknya. “Ayo mbak munggah”, lagi-lagi Radit membujuk. “Wes kono nang do dolanan, aku tak nunggu nang ngarep kene”. Mereka
memainkan permainan yang umumnya ada di TK, sedang aku dan Tata menunggu di
depan gerbang. Ada hamparan sawah di sekeliling gedung TK. Mumpung matahari
masih perlahan naik, tak ada wagunya aku berkeliling sebentar. Ahhh firasatku
benar. Sinar yang masih hangat, tanah basah yang dingin, dan dedaunan yang
masih berembun. Aku menemukannya. Tepat di depanku. Sejenak ku hirup udara pagi
itu. “Mbak nopo ning kono?, Tama
berteriak padaku. “Lha kok malah penekan
nang!”. Mereka memanjat pohon kersen
di pojok TK. Ah jadi teringat masa kecilku yang tiap pulang sekolah juga
melakukan hal yang sama, menantangnya pohon kersen ada di pinggir jalan raya.
Tak peduli laki-laki atau perempuan. Semua sama.
Sauqi
yang berada di bawah memberiku sebuah kersen. “Niki mbak, jajal sek seneng ora”, sambil mengulurkan tangganya.
Karena masih pagi dan belum minum apapun aku mengantongi buah kersen tersebut
dalam kantong celana. Setelah cukup lama kami kembali ke rumah. “Yo nang wes awan, selak ketauan nek mplumpat
pager ngko”, rayuku mengajak mereka pulang. Kami berjalan bersama mengikuti
jalan pulang. Wkwk. Matahari sudah cukup
naik, suasana sedikit hangat. Disepanjang jalan kami bertemu dua gadis
kecil juga berlarian berlawanan arah dengan kami. “Nang kono godani”, sambil melirik Radit yang berada di depanku. Kedua
gadis itu berpapasan dengan kami dengan ekspresi yang geli jika aku
mengingatnya. Haha aku dulu juga seperti itu ketika kecil, ah bahkan sekarang
juga demikian. Malu ketika berpapasan dengan lelaki atau segerombolan lelaki
namun aku hanya seorang diri. Rasane pengan
puter balik golek dalan liyo wes. Masih dengan suasana yang sama, kami
saling melempar ejekan. Bahkan Radit yang tanpa malu menurunkan celananya
sambil memperagakan tingkah yang kocak. Hingga dipersimpangan jalan kami
berpisah satu per satu menuju rumah masing-masing.
Jujur
saja, aku sudah jarang melihat hal semacam itu. Bocah-bocah polos yang taunya
cuma main saja. Haha. Bisa kalian bayangkan bagaimana methisilnya mereka ketika di sekolah? Bukan masalah nakal atau
bagaimananya yang ingin admin tekankan, melainkan peran kalian ketika bocah.
Bermain tak kenal gadget ditangan,
tak kenal numpak motor boncengan
ugal-ugalan, mereka usil, mereka nakal tapi dalam tahap bocah. Mereka
mengingatkan bahwa ceria yang sebenarnya memang ada, bukan pura-pura atau
ditutup-tutupi. Bukan juga bermuka dua. Saling mengejek bukan menghina. Masa
kecil yang selalu dirindukan orang dewasa. Bisa tertawa tanpa harus tau
sakitnya patah hati itu bagaimana, tak kenal kata menyerah jika banyak masalah
yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Radit, Fajar, Sauqi, Tama, Raka, dan
Reihan. Terimakasih untuk waktu berharganya.
Comments