
https://ecs7.tokopedia.net
Cerita ini masih fresh, baru saja dialami beberapa jam
lalu. Sabtu sore aku (boleh dibaca admin) memang berencana pulang dari tanah
perantauan. Alih-alih menghadiri pernikahan teman sekolah menjadi motivasi
utama. Maklum saja, diusia yang menginjak kepala dua bahkan ++ undangan
pernikahan teman atau bahkan mantan *ehh bermunculan bergantian. Entah jaman
sudah berubah atau memang nikah muda jadi dambaan. Selepas pulang dari tugas
negara kuliah, aku bergegas bersiap dan melakukan perjalanan pulang. Seperti biasa
naik angkutan umun dilanjut bus jurusan Solo-Semarang.
Aku memang tipe orang yang mudah sekali terlelap dalam
ketidaksadaran diri. Haha lagi-lagi angina sepoi-sepoi dari jendela yang
terbuka kecil dan pintu angkutan masuk seperti alunan musik syahdu. Aku pun
tertidur, yah tapi dalam posisi duduk lho ya. Aku menganggap ini nikmat Tuhan.
Ah jika kalian tidak pernah naik kendaraan umum hal semacam ini mungkin nggilani. Sudah Sembilan tahun sejak
menginjak sekolah menengah pertama aku mulai terbiasa naik bus ke sekolah.
Tertidur di dalam bus juga sudah langganan.
Selepas dari angkutan lanjut bus besar jurusan
Solo-Semarang. Alhamdulillah masih mujur, dapet tempat duduk. Bisa lanjut
tidur. Kedapetan duduk disebelah bapak yang sudah berumur. Ah aku cupu seperti
biasa, tak berani memulai obrolan basa-basi. Ditengah perjalanan aku terbangun,
penumpang sudah banyak yang berdiri. Tak lama bapak disampingku mau turun.
Dengan tanpa kata-kata aku menyingkir kesamping agar bapak itu bisa keluar dari
tempat duduk. “Ibu duduk sini! Sudah lama berdiri kok dari tadi” tiba-tiba ucap
bapak itu. Seorang ibu yang juga sudah tidak muda lagi duduk disebelahku
mengganti kursi kosong bapak itu.
“Aku kok ora peka men. Ono wong tuo ra gelem ngalah”,
batinku. Apa bapak tadi kesal denganku ya karena aku tak memberikan kursiku
pada ibu yang berdiri? Sudahlah toh si
ibu juga sudah duduk. Empat puluh lima menit kemudian aku sampai di kota
kelahiran. Alhamdulillah. “Solat asar dulu lah”, aku sambil berjalan menuju
musola terminal. Hampir memasuki waktu magrib juga jadi aku tak beranjak dari
tempat solat.
Tiba-tiba datang seorang bapak dengan style jeans.
Perawakannya sih cukup sangat meskipun tidak tatoan. Pakai topi men, gaul pokoke. Dilepaslah topinya dan mengambik
sesuatu dari kantung celana. Tak pikir sapu tangan atau handuk kecil ternyata
peci. Lah to sangar tenan. Aku penasaran. Teng. . .teng. . .teng. Alarm musola
berbunyi tanda adzan magrib segera berkumandang. Lho lak tenan to, bapak e tadi lanjut adzan wehhhh. Pancen mantap. Suaranya tidak buruk, malah bagus. Aku cuma
bisa berguman dalam batin. Jajal nek
tatoan lak samsoyo sangar yo, haha.
Oke lanjut solat berjamaah. Para makmum berdatangan
terutama kaum adam. Selepas solat rasa penasaranku tak kunjung mereda. Aku
sempat tengak tengok ingin tau wajah bapak yang adzan tadi. Tapi gagal saudara.
Bapaknya terlanjur pergi. Dan sangarnya, keluar dari masjid peci dilepas ganti
pakai topi lagi. Jadi kepikiran, malaikat tanpa sayap ini nih. Tak pikir
kehidupan di terminal itu keras. Memang keras ya? Tapi ada seseorang eh bukan
satu tok tapi beberapa orang yang Tuhan titipkan di dalamnya hati yang bersih. Jajal wae tonton dari perawakane, opo ho’o
bakal kepikiran nek bapak e le adzan?
TAMAT.
Comments