
https://atmajayanews.files.wordpress.com
Hari Minggu tepat minggu pertama di
bulan September saya diberi amanat mendampingi siswa di salah satu SMP di
Semarang untuk mengikuti lomba senam dan sepeda santai. Sebenarnya bukan saya
yang ditunjuk namun karena suatu keadaan saya harus dan mau menggantikan.
Berhubung ini acara adalah sepeda santai, sangat diperlukan sebuah sepeda agar
bisa mengikuti murid-murid demi melancarkan tugas penjagaab. Karena sepeda motor tidak diperkenankan melintas di
jalur yang dilalui sepeda santai. Saking nekad dan beraninya, saya dan
teman-teman mengikuti dari belakang barisan dengan mengendarai sepeda motor.
Sialnya, saya tercyduk pak polisi yang sedang berjaga. Sedikit mendapat omelan pagi. Yasudah ini konsekuensi.
Satu jam kita hanya muter muter
berharap bisa berjumpa murid agar bisa mengambil dokumentasi gambar. Karena ini juga amanat bapak ibu guru. Keputusan akhirnya adalah kembali ke finish yang sekigus menjadi garis start tadi.
Alhamdulillah ketemu juga sama murid-murid. Namun yang cukup njengkeli, seorang siswa nyeletuk “gimana to bu jam segini baru datang, kan
disuruh dampingi kita”. Agar terlihat dewasa kami tidak berdebat dengan murid-murid. Minta maaf
pada anak-anak adalah jalan terbaik. Alih-alih meminta foto mereka biar senengnya kembali.
Lanjut lomba senam, tim SMP kami
mendapat nomor undian 14. Ketika saya datang masih nomor urut 5. Wah lama.
Nunggu sambil berteduh dibawah pohon rindang. Alunan musik dangdut menambah
syahdunya pagi menjelang siang itu. Melihat pengunjung berlarian, saling
memotret diri sendiri, bahkan saling memadu cinta. Maklum saja, acara semacam
ini bisa jadi tempat sepasang remaja memadu cinta. Haha ini indah dipandang.
Selama tidak saling melakukan hal-hal wagu dan saru.
Ditengah asyiknya obrolan dengan
teman-teman, datanglah seorang embah-embah yang menggendong bakul jajanan.
Entah makanan jenis apa yang dijualnya. Beliau menawarkan dengan muka yang jika
dilihat makhluk-makhluk macam kita ini akan merasa kasian. Maklum saja, cewek
baperan seperti saya tak kuasa melihat embah-embah seperti itu. Yang lain sudah
menolak untuk membeli namun mata beberapa teman saya masih merasa kasian.
Akhirnya seorang teman saya mengaku kalah. Dia memberi dua ribu perak untuk
membeli jajanan, namun teman saya yang lain yang disuruh beli.
Dua makanan dihidangkan dengan cara
dipincuk (bahasa di rumah saya).
Teman saya bilang itu makanan harga satunya seribu jadi dapat dua. Tapi kok
aneh “murah e”, batinku. Embahnya
masih memperhatikan kami sambil berkata, “duitnya
kurang mbak. Harga satunya lima ribu”. Kita semua terdiam dan hanya bisa
saling memandang. Seperti biasa tanpa banyak komentar aku minta duit ke
bendahara untuk membayar jajanan itu. Disodorkanlah uang sepuluh ribu rupiah
ini pada embah penjual. Sialnya duit dua ribunya juga tidak dikembalikan.
Aku duduk terdiam sambil mikir, menolong
dengan alasan mesakke apakah tidak dibenarkan? Apakah embah-embah itu hanya
memanfaatkan rasa mesakkenya kami? Sungguh Tuhan Maha Mengetahui semuanya.
Dampak yang ditimbulkan atas kejadian tersebut adalah kita ngedumel,
nggrundhel, kezel, dan kawan-kawannya. Traumatik berlebih mungkin bisa muncul
dilain waktu jika menjumpai situasi semacam ini lagi.
TAMAT.
Comments