http://freepik.com
Bukankah menjadi siswa itu hal yang menyenangkan? Dari
merah putih naik tingkat ke biru putih berlanjut abu putih. Banyak hal baru
yang akan ditemukan. Mulai dari senengnya MasyaAllah
sampai ngerinya Nauzdubillah. Misalnya
soal mata pelajaran yang tuntutannya melebihi tuntutan sukses orang tua. Njlimet. Bayangkan saja jika ada 13 mata
pelajaran selama seminggu dan masing-masing punya pekerjaan yang beda. Impian
bisa leha leha diakhir pekan hanya
wacana semata. Tapi bukan berati masa itu jadi lebih suram, ada juga semacam
getaran yang mulai membuat sesak dada. Yah apalagi jika bukan cinta. Sek sek
tapi ini bukan bahas cinta-cinta lho ya.
Setiap pagi kamu (sebut murid) punya agenda rutin
yaitu sekolah. Ini hukumnya juga wajib selain solat lima waktu. Bangun jam lima
eh jam setengah enam lanjut mandi tak lupa juga sarapan. Ini kalau kamu
beruntung punya orang tua yang menyediakan sarapan, ada juga yang kurang
beruntung dalam hal ini. Maka untuk menghargai jasa bapak atu ibumu, bersyukurlah
pada Allah SWT dan berikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada kedua
orang tua kalian. Seperti ini adalah ciri anak yang berbakti pada orang tua.
Tunjukkan bahwa kalian anak yang budiman.
Siswa laki-laki dan perempuan punya gaya masing-masing
disekolah. Kaum hawa biasanya menguncir rambut agak keatas dengan poni depan
atau miring yang menambah kadar keimutan mereka. Ini bagi mereka yang tidak
memakai jilbab. Berbeda halnya dengan yang memakai jilbab. Mereka punya tren
sendiri terutama kalangan pelajar. Gaya mancung dengan rambut bagian atas
terlihat, kedua ujung jilbab yang menggantung ditarik kebelakang leher dan
diikat atau hanya disampirkan. Garis bawahi yang bagian rabut terlihat. Entah ini
meniru gaya ibu-ibu pejabat yang dimodifikasi ala-ala remaja atau memang gaya
semacam ini sedang tren diabad 21. Rumit bukan?
Bagi kaum adam berbeda juga. Baru-baru ini admin
sedang berada dilingkungan sekolah tingkat pertama untuk kurun waktu cukup
lama. Jadi data diambil berdasarkan pengamatan langsung dilapangan. Siswa laki-laki
suka poni juga. Menyamping tapi. Bahkan poninya juga cukup panjang tapi tetap
jika panjangnya melebihi poni perempuan sudah bisa dipastikan cukur rambut
dadakan. Ramput samping tipis dan semakin keatas semakin menebal. Mirip potongan
3 2 1 nya pak tentara. Atau rambut tipis dengan bagian atas yang sengaja
dipanjangkan. Biar bisa dikuncir ekor kuda sepertinya. Namun dari sekian banyak
gaya rambut, yang jadi pusat perhatian yaitu rambut klimis mereka.
Keramas dipagi hari dirasa bisa meningkatkan kesegaran
pikiran. Tujuannya tak lain dan tak bukan agar pelajaran bisa masuk dan
diproses dengan baik di dalam pikiran. Yah maklum saja, saking banyaknya yang
dipelajari hari itu, semua ilmu berebutan masuk tapi malah tidak ada satupun
yang bisa tinggal dan menetap di halaman pikiran. Rambut klimis seperti perwujudan
semangat mereka memulai pagi di sekolah. Bandingkan saja dengan mereka yang
tidak keramas bahkan tidak menyisir rambut, terlihat kusut dan tidak niat
berangkat sekolah. Dengan sentuhan sedikit gel agar tatanan rambut tidak morak marik tertiup angin. Ini menjadi
formula yang bukan rahasia lagi. Jadi ingat dulu waktu SD admin sering melihat
gel rambut merk gats** di kamar abang admin. Waktu itu dia duduk dibangku
sekolah menengah pertama. Tradisi ini rupanya telah menjadi budaya yang cukup
lama. Atau mungkin memang turun-temurun dari nenek moyang?
Comments