Yang dari Kecil Punya Cita Cita Jadi Guru Wajib Nonton Anime Ini “Oushitsu Kyoushi Haine”

cita-cita menjadi guru 

Lagi lagi belajar dari anime, kalau nggak suka film kartun gimana? Orang tua admin sih sering bilangnya gambar corek. Yang bukan Anime Lovers atau Otaku pasti enggan nonton animasi dari Jepang ini. Man eman kuota je. Lha gimana  wong kudu download, bukan cuma satu atau dua MB tapi puluh-puluh MB. Eman eman to ya. Admin punya solusi, kalau pengen nonton tapi nggak punya kuota kalian minta sama temen cowok kalian yang doyan anime. Sudah pasti mereka punya. Kalau pelit, terpaksa kalian pakai jurus terakhir yaitu download pakai wifi gratisan. Simpel kan? Sekarang kan kafe tongkrongan anak hits punya fasilitas wifi, datengin pesen satu kopi atau minuman. Udah deh, 2-3 jam kalian nongkrong disitu. Kalau nggaj punya malu bisa nyampe diusir sama pelayan kafe.  Kok malah bahas download anime ya, padahal tadi judulnya kaya ada guru-gurunya. Hvft.
Admin cerita sedikit alur cerita anime “Oushitsu Kyoushi Haine” atau in English is “The Royal Tutor”. Jadi ini Haine ini seorang pembimbing kerajaan para pangeran *cantik-cantik lho. Heine Wittgenstein punya badan pendek diutus sang Raja bernama Viktor untuk membimbing keempat pangeran yang punya beda-beda watak. Pangeran Kai, Pangeran Bruno, Pangeran Leonhard, dan Pangeran Licht. Awalnya para pangeran menolak adanya pembimbing kerajaan baru, namun usaha Haine mengambil kepercayaan pangeran membuat mereka dengan senang hati menerima kedatangan Haine. Pembelajaran pun dimulai baik individu maupun kelompok. Klimaks cerita, Haine pernah dituduh melakukan tindakan criminal dan dipenjara sehingga jika latar belakang ini diketahui Haine akan mengundurkan diri sebagai pembimbing kerajaan. Hari itu pun terjadi, Haine pergi dan para pangeran tidak mau ditinggalkan guru mereka itu. Usaha pangeran membuahkan hasil, mereka menunjukkan bahwa Haine memang pantas menjadi pembimbing meskipun dulu pernah masuk penjara. Tamat.
Kenapa anime kok jadi inspirasi buat para calon guru? Karena inti dari cerita ini adalah bagaimana Haine membimbing para pangeran agar siap menjadi raja berikutnya dalam tanda kutip para pangeran yang punya karakteristik berbeda. Bahkan para pembimbing kerajaan yang terdahulu tidak ada yang bisa bertahan membimbing para pangeran. Sama halnya dengan seorang guru yang membimbing murid muridnya. Asprk kognitif, afektif dan psikomotorik yang harus disampaikan guru baik secara tersirat maupun tersurat. Ini merupakan tugas seorang guru, dan bagi calon guru mempelajari demikian sangat dianjurkan. Apalagi menjumpai manusia (sebut murid) dengan rupa yang beraneka ragam dan tentu saja satu tujuan yaitu mencari ilmu.

#1 Pembelajaran Pangeran Kai (Pangeran kedua)

cita-cita menjadi guru
17 tahun. Pangeran yang sedikit bicara (pendiam) dan tidak sering muncul di muka umum. Punya tatapan tajam, seakan tatapan pertama mengandung maksud benci dan membuat lawan bicaranya ketakutan. Ketika wawancara, Haine berusaha memahami lebih Pangeran Kai. Setelah berbincang cukup lama akhirnya Haine paham bahwa tatapan Pangeran Kai tidak mempunyai maksud benci. Pada akhir pembelajarannya, Pangeran Kai bisa berinteraksi dengan staff kerajaan. Dia memiliki kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan mampu memahami perasaan orang lain.

#2 Pembelajaran Pangeran Bruno (Pangeran ketiga)

cita-cita menjadi guru
16 tahun. Punya kecerdikan yang luar biasa. Diusia muda ia sudah dikagumi sebagai jenius dengan pemikiran yang cerdas dan merupakan sarjana muda yang berkembang dalam bidang sosiologi dan filosofi. Ketika wawancara Pangeran Bruno beranggapan bahwa Haine tidak lebih hebat darinya namun Haine berhasil membuktikan bahwa Haine layak menjadi pembimbing kerajaan. Pada akhir pembelajarannya, Pangeran Bruno mampu menilai sesuatu dan membuat keputusan dengan kekayaan informasi yang dimilikinya.

#3 Pembelajaran Pangeran Leonhard (Pangeran keempat)

cita-cita menjadi guru
15 tahun. Paling bodoh diantara empat pangeran lain. Kekanak-kanakan tapi rendah hati. Dia punya hati yang sangat sensitif. Benci belajar karena pernah punya masa lalu yang melukai hatinya tentang belajar. Ketika waktu belajar dia akan melarikan diri dengan berlari atau menunggang kuda. Ketika wawancara, Haine ditolak mentah-mentah namun dia berusaha memahami hati Pangeran Leonhard dan mengejarnya ketika pangeran lari saat diberi pelajaran. Haine berhasil mengambil kepercayaan Pangeran Leonhard. Pada akhir pembelajarannya, Pangeran Leonhard mampu mengetahui kelemahan sendiri dan menakhlukannya. Dia punya imaginasi yang kuat dan tidak benci belajar.

#4 Pembelajaran Pangeran Licht (Pangeran kelima)

cita-cita menjadi guru

14 tahun. Pangeran dengan roman tampan, kepribadian ceria dan suka bermain-main dengan wanita alias playboy. Wawancara berjalan cukup lancar, namun ada sedikit kecurigaan Pangeran Licht terhadap Haine. Haine berhasil mengatasinya. Pada akhir pembelajarannya, Pangeran Licht mampu memperilakukan semua orang dengan setara. Mendengarkan curhatan mereka dan riang seperti biasa.

Apa yang dilakukan Haine untuk mendapat kepercayaan para pangeran, bahwa dia layak menjadi pembimbing kerajaan. Seperti kutipan Haine “Memenuhi tugasku sebagai pembimbing kerajaan adalah satu-satunya kepentinganku. Suasana hati kalian tidak akan merubah apapun”. Itulah mengapa diawal penolakan Haine sebagai pembimbing kerajaan baru menjadi prinsip agar Haine mendapatkan kepercayaan para pangeran. Haine berusaha memahami setiap karakter pangeran dan mencari bagaimana menakhlukkan hati mereka. Seperti halnya seorang guru sekolah. Tak jarang dari kita (siswa) menolak kehadiran guru, terutama jika ada rasa trauma pada diri. Namun guru seakan tidak peduli, mau diterima atau ditolak murid itu bukan urusan. Ngurus anake wong akeh mumet je. Mendapat kepercayaan dari murid itu penting. Pondasi awal yang kudu dibangun.
Pangeran Kai yang pendiam, Pangeran Bruno yang sangat jenius, Pangeran Leonhard yang bodoh, dan Pangeran Licht yang playboy. Ada perlakuan berbeda dalam memahami setiap pangeran. Bukankah dalam satu kelas di sekolah ada banyak keragaman karakteristik. Ada yang pandai dan ada yang bodoh. Ada pendiam dan ada berisik. Bukankah perlakuannya juga akan berbeda. Dan satu lagi, Haine mengajarkan hal dengan mengembangkan kemampuan masing-masing pangeran. Karena Haine beranggapan bahwa setiap pangeran punya bidang keahlian masing-masing. Inilah yang perlu diketahui para guru sekalian. Setiap manusia itu unik. Jangan samakan mereka.

Tugas seorang guru bukanlah melukai hati muridnya, melainkan membangun harapan”, Haine.

Comments