http://freepik.com
Siapa yang tidak punya instagram (IG)? Bisa dipastikan umat manusia masa kini mulai dari orok sampai tua punya satu IG
pribadi untuk eksistensi diri (meskipun banyak yang punya banyak untuk OLshop). Ada kan ya, yang baru saja lahir udah dibuatin IG sama emak bapaknya.
Tapi ya biarlah, toh daftar IG juga gretonggg,
kecuali kalau bayar sejumlah duit nah
itu kalau satu manusia punya banyak dia punya harta pasti juga tumpeh-tumpeh. Kalau diliat-liat yang punya followers banyak selain artis dan selebgram siapa sih? Oh ya
akun-akun galau, kocak, dan kata-kata motivasi gitu juga banyak sih ya (maklum
generasi kurang motivasi jadi harus follow
untuk mempertahankan kehidupannya). Tapi coba bandingin followers kalian dengan tetangga kalian yang menginjak usia remaja
SMP/ SMA. Banyak mana? Lebih hits mana? Kalau jawaban kalian banyak mereka bisa
dipastikan kamu salah makan. Kalian terlalu sering makan gorengan sama es teh.
FYI, mengutip salah satu berita di tekno.kompas.com
bahwa Instagram dijadikan obyek penelitian untuk menganalisa perilaku seseorang
berdasar usianya. Tentu saja Tim Peneliti ini berasal dari Amerika Serikat.
Beberapa hal yang dapat temukan di penelitian ini, jadi ini fakta men bukan ngarang bebas kaya pelajaran Bahasa Indonesia.
Kalian kaum remaja kudu baca artikel
ini, buat jaga-jaga kalau tiba-tiba negara api menyerang. Jadi kalian udah
punya tameng biar nggak gugur sebelum
nikah. Sayang kan kalau kalian nggak ngerasain
nikah dan punya keluarga seperti yang kalian bicarakan dengan pacar kalian
masing-masing. Inget lho ya pacar masing-masing bukan pacar orang apalagi temen
kalian sendiri. JANGAN! HARAM HUKUMNYA.
#1 Instagram ibarat dewa bagi kaum remaja, semakin banyak like semakin tinggi popularitas
Wah musyrik ya, mendewakan selain Tuhan. Matte…..maksudnya mendewakan jumlah like postingan kalian. Semakin banyak like semakin tinggi pula tingkat kepedean kamu. Mengapa? Hal ini untuk
citra di media sosial. Mereka menjunjung tinggi citra mereka di Instagram.
Tingginya hasrat agar mendapat perhatian netizen
di seluruh dunia menjadi motif terselubungnya. Remaja memang suka mencari
perhatian orang di sekitar, mereka ingin dianggap ada dan bisa.
#2 Melihat kembali unggahan foto lama, jika dirasa sudah tidak bagus foto akan dihapus.
Berdasarkan tren, dulu aplikasi C360 dan B612 sempat hits pada jamannya.
Beberapa kali dijumpai postingan dengan 16 frame dalam satu foto yang diunggah
dengan gaya muka berbeda beda. Namun tahun 2017 adalah masa kejayaan kamera
DSLR dan action camera. Bagi beberapa remaja mungkin menghapus foto gaya B612
mereka karena dirasa sudah jadul. Itulah mengapa remaja sangat selektif
terhadap perkembangan gaya berfoto.
#3 Spam like potingan orang lain, agar orang lain juga memberi like kembali

TFL atau thanks for like adalah singkatan kekinian mereka untuk saling
menyapa satu sama lain. Alih-alih mendapat banyak like dengan cara memberi
like. Kalau dilihat konsepnya ini sama artinya dengan apa yang kita tanam akan
kita panen *ehh. Saking senengnya memberi like, notification IG sampai numpuk gegara spam like ini. Tapi ya mau gimana,
toh mereka merasa senang.
#4 Lebih sering komen postingan daripada mengunggah foto sendiri
Coba lihat foto yang kita unggah, bagaimana respon temen kalian? Nggak ada yang respon bukan, dapet like
aja sudah Alhamdullillah. Dapet komentar kalau kalian jomblo tiba-tiba posting
foto sama cewek atau cowok berdua dengan caption “yang disemogakan”. Sudah
pasti kebanjiran hujatan. Tapi lihat postingan remaja kekinian, area komentar
seperti chat pribadi.
#5 Sangat pilih-pilih dengan foto yang akan diunggah ke akun Instagramnya
Jika dibanding orang dewasa yang cuek soal unggahan foto mereka, si
remaja sangat amat pilih-pilih. Mengapa? Ini demi citra popularitas mereka
tentunya. Mereka akan sangat mempertimbangkan foto mana yang menghasilkan
banyak like. Itulah mengapa jika dibanding dengan kita, foto kaum remaja lebih bagus bisa
jadi angel atau komposisi fotonya.
#6 Caption yang nggak nyambung dengan foto, biasanya kutipan motivasi atau nyindir teman sendiri

Sebenarnya ini bukan hanya berlaku untuk remaja tapi salah satu dari kita
(orang dewasa) juga sering melakukannya. Entah biar keren atau gimana, caption yang mereka tulis seringnya nggak nyambung dengan foto yang mereka
unggah. Sampai sekarang pun saya masih penasaran, apa yang menjadi motif perilaku kita-kita
ini? Selain motivasi caption juga berupa sindir-sindiran, apalagi jika mereka
sedang dilanda badai di hubungan percintaan mereka. Semacam kode-kodean yang
hanya bisa dirasakan kedua kubu yang berseteru.
#7 Sapu bersih foto mantan, ganti dengan gebetan
Bagian ini juga menggelikan, pas jaman pacaran semua momen bareng doi
diabadikan di akun pribadi masing-masing dengan caption romantis penuh emot
warna warni. Tapi setelah negera api menyerang, coba lihat akun mana yang masih stay dengan mengabadikan kenangan
mantan? Yang ada malah gebetan menghilang.
#8 Biodata “unfoll = ketahuan/ unfoll = block” dkk

Saya kira ini hanya untuk jokes saja tapi sepertinya ini
memang kisah nyata. Jika ada yang unfoll
duluan pasti langsung block atau unfoll balik. Dulu saya masih penasaran dengan
fenomena ini tapi setelah bertanya pada beberapa teman jawabannya cukup masuk
akal. “Mereka nggak mau follow orang yang nggak follow mereka.
Emang siapa dia harus difollow”, she said.
Huaaaaaa,
lucu atau wagu sih sebenarnya? Tapi mau protes yang kaya gimana, era kita
(orang dewasa) dengan era remaja sekarang memang berbeda. Ini konsekuensi arus
teknologi dan lingkungan. Pesan saya buat kalian si remaja-remaja kekinian yang
baca artikel ini “instagraman boleh tapi ya tetep bijak. Eksis boleh tapi ya
selektif. Tunjukkan bahwa kalian generasi cerdas masa depan, buka generasi lupa
diri yang udah lupa toto kromo. Bermedia
sosial lah dengan bijak layaknya caption instagram kalian.” Yang punya adik
remaja jangan malas ngasih tau adiknya, jangan malu-maluin jadi mbak dan mas ya.

Comments