
http://freepik.com
Sepertinya
ini topik bahasan berat ya, kita anak-anak sekolah mah taunya yang enak-enak. Eitssss,
but wait perkara peka peka’an
bukannya remaja jagoannya? Apalagi peka dengan kode doi, itu udah diluar kepala
malah. Ya kan? Tapi maaf, admin
mengecewakan kalian. Ini bukan topik peka kode doi atau pacar atau mantan yang
minta balikan tapi peka terhadap lingkungan kalian. Bisa orang tua, saudara,
tetanggga, atau makhluk sekitar anda yang sering kalian jumpai namun kalian
abaikan. Pernahkah kalian memikirkannya layaknya mikir besok mau makan apa? Kalau
jawaban kalian “iya” terus pertahankan, kalian tidak termasuk golongan orang gila
jika memikirkan nasib semut yang tenggelam digenangan hujan kok. Tapi kalau
jawaban kalian “tidak”, cepatlah sadar. Mungkin tingkat kepekaan kalian tidak
tumbuh secara wajar.
Peka
menurut om KBBI diartikan mudah merasa; mudah terangsang. Yang pertama mudah
merasa, misalnya saja tak sengaja kamu melihat seorang ibu (salah satu
tetanggamu) yang mondar mandir nunggu bis dari pasar hendak pulang. Kamu naik
motor sendiri yang kebetulan juga akan pulang. Kalau kamu termasuk golongan
mudah merasa tentu saja kamu tidak akan nyolong pura-pura nggak lihat padahal
jelas kamu melihatnya. Jika kamu merasa harus berbuat sesuatu organ kepekaan
kamu yaitu hati dapat dikatakan berkembang baik. Yang kedua mudah terangsang,
misalnya saja (lanjutan ilustrasi diatas) jika hatimu mulai merasa gimana gitu
(dalam arti positif) timbul niatan untuk nebengin beliau dan kedua tangan dan
kakimu tergerak mengerem motor itulah maksud dari mudah terangsang. Rangsangan dari
hati dan otak hingga koordinasi dengan alat gerak menghasilkan suatu perbuatan.
Itulah contoh sederhana peka dengan sesama.
Suatu
hari, admin sedang berkunjung ke rumah tetangga dan saudara admin, maklum saja
ini dalam suasana Hari Raya Idul Fitri. Tentu saja tujuannya adalah
silaturahmi. Berhubung admin jomblo (temen lain pergi sendiri) jadi
admin memutuskan untuk berkunjung seorang diri. Rumah satu dengan rumah yang
lain punya suasana berbeda. Tak jarang tuan rumah juga mengajak ngobrol ngalor ngidul, ngomongin masa depan
(saya sendiri), ngasih nasehat, ngomongin orang lain, dan masih banyak lagi. Pernahkah
kalian memikirkan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Masalah, masa depan,
kenapa “dia” bisa jadi bahan cibiran orang, keluh kesah mereka terhadap anak
mereka, dan suasana rumah mereka. Pernahkah kalian memikirkannya?
Sebagai
generasi merunduk (gadget menjadi bagian hidup) semua semakin dipermudah. Terutama
untuk pejuang LDR, mereka bisa VC untuk saling tau rupa mereka. Gadget menjadi
media penyimpanan baik kenangan, moment, atau diary. Namun juga perlu kalian pahami,
kenyataan dunia tidak bisa hanya dijangkau dengan benda itu. Meskipun masalah
update setiap hari dan kalian memantau timeline dari bangun tidur hingga tidur
lagi itu saja belum cukup. Meskipun kalian juga ikut mengomentari setiap
permasalahan tersebut itu juga tidak cukup. Peka dengan lingkungan tidak
sesederhana itu gaes. Kalian perlu keluar dari dunia virtual dan mulai terjun
ke lingkungan kalian secara langsung. Ingat, LANGSUNG!
Perhatikan
apa yang ada disekitar kalian, masalah, kebiasaan, interaksi, kebahagiaan,
bahkan guyonan. Sesekali kunjungilah teman atau tetangga kalian di rumah,
dengarkan mereka. Namun jika obrolan mulai mengarah pada gunjingan, coba
sedikit renungkan. Apa yang menjadi permasalahan kok bisa digunjingkan. Tapi ya
inget, kalian jangan ikut. Cukup dengarkan saja dan alihkan ke topik lain. Nah itu
bisa kalian coba. Kurangi komunikasi tidak langsung jika memang masih bisa
dijangkau langsung. Dari sanalah kalian akan mendapat pengalaman nyata,
bagaimana keadaan lingkungan kalian. Pernah dengerin emak temen kalian yang
curhat soal anaknya? Bukankah itu bisa jadi cerminan diri kalian. Mungkin saja
emak kalian juga merasakan hal serupa tapi nggak berani ngomong ke kalian
langsung.
Dunia
maya memang menjangkau seluruh isi dunia, tapi dia takkan memperlihatkan
kondisi sekitar lingkungan kalian. Kalian lah yang harus mencari sendiri. Terkadang
kalian tahu tetangga kalian melahirkan dari postingan akun pribadi tetangga
kalian kan? Tahu temen SMP nikah juga dari postingan facebook. Media sosial
memang terkadang akan terasa bermanfaat bagi kalian yang merantau jauh dan tak
tahu apa-apa soal berita terbaru tetangga. Namun media sosial juga menjadi
boomerang bagi kalian yang terlalu vulgar disana. Entah ngrasani, nyinyiri, atau berbagi kabar bahagia semua ada. Satu hal
lagi, ketika kalian hilang dari aktivitas di media sosial kalian tidak akan
dicari, semua akan berjalan baik-baik saja meski kalian tak ada. Tapi jika
kalian hilang dari lingkungan, kalian akan dicari. Karena kalian dibutuhkan
disana. Walaupun sekedar bahan bulliyan kawanmu. Haha
Comments